Kamis, 09 Oktober 2014

Penjelasan Dari Buku Filsafat Ajaran Islam

BAGAIMANAKAH KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI? 






 
Dalam menjawab pertanyaan ini, dapat diterangkan bahwa keadaan sesudah mati itu sesungguhnya bukanlah suatu keada­an baru melainkan keadaan-keadaan di alam dunia ini juga yang dinampakkan lebih jelas. Apa pun akidah yang dianut dan amal‑amal yang dikerjakan ma­nusia -- yang baik maupun yang buruk -- di alam dunia ini tersembunyi dalam diri manusia. Dan obat penangkalnya atau pun racunnya memberi dampak terselubung pada diri manusia. Akan tetapi, di alam mendatang tidaklah demikian keadaannya, melain­kan segala keadaan itu secara terbuka akan menampakkan wajahnya. Contohnya dapat ditemukan di alam mimpi. Yakni, se­suatu yang mempengaruhi tubuh manusia, di alam mimpi akan nam­pak dalam bentuk jasmani. Apabila seseorang akan terserang demam tinggi, maka acapkali di alam mimpinya nampak api dan kobaran api. Apabila ia terserang influenza, ia melihat dirinya di dalam air. Ringkasnya, sebagaimana tubuh telah melakukan persiapan terhadap penyakit-penyakit, maka keadaan-keadaan itu akan nampak di alam mim­pi dalam bentuk tamsil. Jadi, dengan menelaah untaian mimpi-mimpi, setiap manusia dapat memahami bahwa demikian jugalah sunnah Allah di alam ukhrawi. Sebab, sebagaimana mimpi menimbulkan suatu perubahan tersendiri di dalam diri kita lalu menampakkan unsur-unsur rohani dalam bentuk jas­mani, demikian jugalah yang akan berlaku di alam ukhrawi. Dan pada hari itu amal perbuatan kita serta buah-buahnya akan tampil secara jasmani. Dan segala sesuatu yang terselubung akan kita bawa bersama dari alam ini, pada hari itu semuanya akan tampak nyata di hadapan kita. Dan sebagaimana manusia menyaksikan berbagai-macam tamsil di dalam mimpi -- dan tidak pernah menganggap itu sebagai tamsil, bahkan ia meyakininya sebagai benda-benda nyata -- demikian pula yang akan berlaku di alam ukhrawi. Bahkan Allah Ta’ala, melalui tamsil-tamsil akan memperlihatkan kodrat‑Nya yang baru. Dikarenakan itu merupakan kodrat yang kamil, maka jika pun kita tidak menye­butnya sebagai tamsil‑tamsil dan mengatakan hal itu sebagai suatu kelahiran baru kodrat Tuhan, maka ungkapan itu sangat benar, tepat, dan betul.
Allah Ta’ala berfirman:
Yakni, seorang manusia yang beramal saleh, tidak mengetahui nikmat‑nikmat apa saja yang tersembunyi baginya (32:18). Jadi, Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa nikmat‑nikmat itu ter-sembunyi, yang tidak ada contohnya di antara nikmat-nikmat dunia. Ini suatu kenyataan bahwa nikmat‑nikmat dunia tidaklah tersem­bunyi dari kita. Kita mengetahui susu, delima, anggur, dan lain‑lain, serta kita senantiasa memakan benda-benda itu. Jadi, dari itu diketahui bahwa nikmat-nikmat bagi manusia yang beramal saleh adalah lain, dan namanya saja yang sama dengan benda-benda ini. Jadi, barangsiapa yang menganggap bahwa surga sebagai kumpulan benda‑benda dunia, berarti dia tidak memahami satu huruf pun Alquran Suci.
Dalam penjelasan ayat ini -- yang baru saja saya sebutkan --junjungan kita Nabi Muhammad saw. bersabda, bahwa surga dan nikmat-nikmat­nya merupakan benda‑benda yang tidak pernah ter-lihat oleh mata; tidak pernah terdengar oleh telinga; dan tidak pula pernah terlintas di dalam hati. Padahal, nikmat‑nikmat dunia kita saksikan dengan mata dan juga kita dengar dengan telinga, serta di dalam hati pun nikmat-nikmat itu terlintas. Jadi, tatkala Allah Ta’ala dan Rasul menyatakan benda‑benda itu se­bagai benda-benda asing, maka kita jauh meninggalkan Alquran jika kita beranggapan bahwa di dalam surga nanti yang akan ada ialah susu dunia ini juga, yang diperah dari kerbau dan sapi-sapi. Seakan-akan disana terdapat bergerombol-gerombol ternak penghasil susu. Di atas pohon‑pohon bergelayutan sarang­-sarang lebah, dan malaikat‑malaikat mencari lalu mengambil madu, kemudian menuangkannya ke dalam sungai-sungai. Apakah pemikiran-pemikiran serupa itu sesuai dengan ajaran ini? Yaitu, ajaran yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa benda-benda itu mencahayai ruh serta melipat-gandakan makrifat Ilahi dan merupakan makanan rohani. Walaupun seluruh gam­baran makanan-makanan itu telah diungkapkan dalam bentuk jasmani, namun beriringan dengan itu telah dijelaskan bahwa sumber utama benda‑benda tersebut adalah ruh dan kebenaran. Janganlah ada yang beranggapan demikian dengan alasan, di dalam ayat Alquran berikut ini didapati bahwa nikmat‑nikmat yang akan dianugerahkan di surga itu akan dikenali oleh para ahli surga setelah melihat-nya, sebab nikmat‑nikmat itu telah mereka peroleh juga sebelum-nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
Yakni, sampaikanlah khabar suka kepada orang‑orang yang beriman dan beramal saleh dan yang tak mempunyai cela sedikit pun, bahwa mereka adalah pewaris surga yang di bawahnya mengalir sungai‑sungai. Di akhirat, ketika mereka akan mendapat buah-buahan yang telah mereka peroleh dari pohon di dalam kehidup­an di dunia ini juga, mereka akan berkata, “Ini jugalah buah‑buahan yang telah diberikan kepada kami dahulu,” sebab mereka akan mendapatkan buah‑buah itu sama dengan buah-buahan sebelumnya (2:26). Anggapan bahwa yang dimaksud dengan buah‑buah yang dahulu itu merupakan nikmat‑nikmat jasmani di dunia, adalah keliru sekali serta sungguh bertentangan dengan arti dan logika sebenarnya dari ayat terdahulu. Melainkan dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka telah membangun sebuah surga dengan tangan mereka sendiri yang pohon-pohonnya adalah iman dan sungai‑sungainya adalah amal-amal saleh. Buah‑buah surga yang demikian itulah yang akan mereka makan di masa mendatang, dan buah‑buahan itu akan lebih nyata dan lebih lezat. Dan dikarenakan mereka secara rohani telah memakan buah‑buah itu di dunia, oleh karenanya mereka akan mengenali buah‑buah tersebut di alam nanti, serta mereka akan berkata, “Tampaknya ini adalah buah-buah yang pernah kami makan sebelumnya.” Dan mereka akan menemukan buah-buah tersebut sama seperti makanan mereka terdahulu. Jadi, ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa orang-orang yang biasa memakan makanan kecintaan serta kasih sayang Tuhan di dunia, makanan itu jugalah yang akan mereka dapati nanti dalam bentuk jasmani. Dan dikarenakan mereka telah mencicipi kelezatan cinta dan kasih sayang, serta mengetahui benar keadaannya, oleh sebab itu ruh mereka akan ingat kembali zaman lampau. Yaitu tatkala mereka duduk menyendiri di pojok-pojok tertentu mengenang Kekasih Hakiki mereka dengan kecintaan di dalam kegelapan malam, dan mereka menikmati kenangan itu.
Ringkasnya, disini makanan-makanan jasmani tidak disinggung sedikit pun. Sekiranya di dalam hati seseorang timbul pemikiran -- bahwa sejak di dunia, orang-orang arif sudah memperoleh makanan-makanan itu secara rohani, maka bagaimana mungkin dapat dinyatakan benar bila mengatakan bahwa itu adalah nikmat‑nikmat yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia, tidak pernah terdengar, dan tidak pernah terlintas di dalam hati seseorang; sehingga dalam hal demikian timbul pertentangan di antara kedua ayat tersebut -- maka jawabannya adalah, pertentangan itu baru akan timbul jika yang dimaksud di dalam ayat ini adalah nikmat‑nikmat dunia. Padahal pada ayat ini yang dimaksudkan bukan nikmat‑nikmat dunia. Apa pun yang diperoleh seorang arif dalam bentuk makrifat, itu pada hakikatnya merupakan nikmat alam ukhrawi yang contohnya telah diperlihatkan terlebih dahulu untuk membangkitkan seleranya.
Hendaknya diingat bahwa orang yang mempunyai hubungan dengan Tuhan bukanlah berasal dari dunia. Itulah sebabnya dunia membencinya. Melainkan, dia berasal dari Langit, oleh karena itu ia mene­rima nikmat‑nikmat samawi. Orang dunia memperoleh nikmat‑nik­mat dunia, sedangkan orang‑orang samawi menerima nikmat‑nikmat samawi. Jadi, memang benar bahwa nikmat‑nikmat tersebut tersembunyi dari teli­nga, hati, dan mata dunia. Akan tetapi, seseorang yang kehidupan duniawinya telah mengalami maut, dan mangkuk itu diminumkan kepadanya secara rohani -- yaitu mangkuk yang di alam ukhrawi akan dinikmati secara jasmani -- maka pada saat itu akan teringat olehnya bahwa mangkuk itu jugalah yang akan diberikan kepadanya dalam bentuk jasmani. Akan tetapi ini pun benar, bahwa dia dari segi mata dan telinga dunia akan dianggap tidak tahu-menahu perihal nikmat tersebut. Dikarenakan dia dahulu berada di dunia -- namun bukan dari kalangan dunia -- oleh karena itu dia pun akan memberikan kesaksian bahwa nikmat‑nikmat ukhrawi tersebut bukanlah nikmat-nikmat dunia. Ketika di dunia, matanya tidak pernah menyaksikan nikmat semacam itu. Tidak pula telinganya pernah mendengar nikmat demikian, dan tidak pernah terlintas di hati. Akan tetapi, di sisi kehidupan kedua, dia telah menyaksikan contoh‑contoh nikmat ukhrawi yang bukan berasal dari dunia, melainkan yang merupakan suatu khabar dari alam yang akan datang. Dia memiliki hubungan serta kaitan dengan alam itu. Dengan dunia, sedikitpun dia tidak mempunyai kaitan.

Tiga Makrifat Alquran mengenai Alam Akhirat

Kini, sebagai kaedah umum, hendaknya diingat juga bahwa kondisi-kondisi yang tampil sesudah kematian, telah dibagi oleh Alquran Suci ke dalam tiga macam. Dan ketiga makrifat Alquran mengenai alam akhirat itu kami uraikan disini secara terpisah-pisah.

Rahasia Makrifat Pertama

Rahasia makrifat pertama ialah, Alquran Suci berulang‑ulang mengatakan bahwa alam akhirat bukan­lah suatu barang baru, melainkan segala pemandangannya merupakan pantulan dan dampak-dampak kehidupan di dunia ini juga. Sebagaimana Dia berfirman:
Yakni, di dunia ini juga Kami telah mengikatkan dampak amal perbuatan setiap orang pada lehernya. Dan dampak-dampak terselubung itulah yang akan Kami zahirkan pada Hari Kiamat, dan Kami akan memperlihatkan dalam bentuk sebuah daftar amal perbuatan yang telah terbuka (17:14). Di dalam ayat ini terdapat kata             thairun. Maka hendaknya jelas bahwa sebenarnya thairun itu berarti burung. Lalu secara kiasan diartikan juga sebagai amal perbuatan. Sebab, setiap amal -- yang baik maupun yang buruk -- setelah dilakukan, akan terbang seperti burung. Jerih payah ataupun kelezatan amal itu akan sirna, sedangkan kekotoran ataupun kebaikannya akan membekas di dalam hati.
Ini merupakan kaedah Alquran Suci, bahwa setiap amal terus membekaskan jejak-jejaknya secara terselubung. Bagaimanapun bentuk perbuatan manusia, sesuai dengan itu Allah Ta’ala akan memperlihatkan perbuatan-Nya. Dan perbuatan Ilahi itu tidak akan membiarkan dosa atau kebaikan tersebut menjadi sia-sia. Melainkan jejak-jejaknya akan dituliskan pada hati, wajah, mata, ta­ngan, dan kaki. Inilah yang secara terselubung merupakan suatu daftar amal perbuatan, yang akan zahir secara terbuka pada kehidupan akhirat.
Kemudian berkenaan dengan para penghuni surga, di tempat lain Dia berfirman:
Yakni, pada hari itu pun cahaya keimanan yang diperoleh orang-orang mukmin secara terselubung, akan tampak berlari-lari secara terbuka, di depan dan di kanan mereka (57:13). Di tempat lain Dia berfirman kepada orang‑orang yang berbuat buruk:
Yakni, keinginan dan ketamakan berlebih‑lebihan akan dunia telah merintangi kamu mencari akhirat, hingga kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah lekatkan hatimu pada dunia. Kamu segera akan mengetahui bahwa melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Sekali lagi Aku mengatakan bahwa sege­ra kamu akan mengetahui, melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Jikalau kamu memperoleh ilmu yang pasti, niscaya di dunia ini juga kamu akan melihat neraka. Kemudian di Alam Barzakh kamu akan melihat dengan penglihatan-penglihatan yang pasti. Lalu kamu akan dimintai pertanggung-jawaban sepenuhnya pada Hari Kebangkitan, dan azab dalam bentuk penuh akan menimpa dirimu. Dan bukan hanya melalui ucapan saja, melainkan melalui kondisi itu sendiri kamu akan memperoleh pengetahuan ten­tang neraka (102: 2‑9).

Tiga Macam Ilmu

Di dalam ayat‑ayat ini Allah Ta’ala menerangkan dengan jelas bahwa bagi orang-orang jahat di alam ini pun ada kehidupan neraka secara terselubung. Dan jika mereka memperhatikan, mereka akan melihat nerakanya masing‑masing di dunia ini juga. Dan disini Allah Ta’ala membagi ilmu dalam tiga tingkat, yak­ni: ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin dan haqqul yaqin. Agar umum memahami, berikut ini adalah contoh-contoh ketiga ilmu tersebut. Misalnya, jika seseorang melihat dari jauh kepulan asap tebal di suatu tempat, maka pikirannya menghubungkan kenyataan itu ke­pada api dan ia yakin bahwa di sana ada api, karena antara asap dan api ada hubungan yang tidak terpisahkan. Dimana ada asap disana pasti ada api. Ringkasnya, pengetahuan yang demikian dinamakan ‘ilmul yaqin. Kemudian ketika dilihatnya nyala api, maka pengetahuan demikian di­namakan ‘ainul yaqin. Dan jika ia sendiri masuk ke dalam api, pengetahu­an demikian dinamakan haqqul yaqin.
Jadi, Allah Ta’ala berfirman bahwa ‘ilmul yaqin tentang adanya neraka dapat diperoleh di dunia ini juga. Kemudian di Alam Barzakh akan diperoleh ‘ainul yaqin. Dan pada Hari Kebangkitan pengetahuan itu juga yang akan sampai pada tingkat sempurna, yaitu haq­qul yaqin.

Tiga Alam

Disini hendaknya jelas bahwa menurut ajaran Alquran ter-bukti ada tiga macam alam:
(1) Alam Pertama ialah Dunia yang dinamakan alam kasab (alam usaha) dan nisya ula (alam kejadian pertama).
Di dunia inilah manusia melakukan kebaikan atau keburukan. Walaupun di alam kebangkitan akan ada kemajuan-kemajuan bagi orang‑orang yang berbuat kebaikan, tetapi itu hanyalah merupakan karunia Tuhan. Disitu tidak ada campur tangan upaya manusia.
(2) Alam Kedua dinamakan Barzakh.
Sebenarnya kata barzakh di dalam bahasa Arab ditujukan kepada sesuatu yang ada di tengah‑tengah dua benda. Jadi dikarenakan periode itu ada di antara alam kebangkitan dan alam kejadian per­tama, untuk itulah ia dinamakan Barzakh. Akan tetapi kata ini sejak awal dan sejak dunia diciptakan telah digunakan untuk menunjukkan alam pertengahan. Oleh sebab itulah di dalam kata tersebut terselubung suatu kesaksian agung tentang adanya alam pertengahan itu.
Kami telah membuktikan di dalam buku Minanur‑Rahman bahwa perkataan‑perkataan bahasa Arab adalah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut Tuhan. Dan inilah satu‑satunya bahasa di dunia yang merupakan bahasa Tuhan Yang Mahasuci; bahasa yang sudah ada sejak awal; sumber segala ilmu pengetahuan; induk segala bahasa; dan merupakan singgasana awal dan terakhir bagi wahyu Tuhan. Dikatakan sebagai singgasana awal bagi wahyu Tuhan, karena seluruh bahasa Arab merupakan Kalam Tuhan yang dari sejak awal menyertai Tuhan. Kemudian Kalam itu turun ke dunia dan dunia telah menjadikannya sebagai bahasa mereka. Dan dikatakan sebagai singgasana terakhir bagi wahyu Ilahi, karena Kitab terakhir Allah Ta’ala -- yaitu Alquran Suci -- telah diturunkan dalam bahasa Arab.
Jadi, kata barzakh berasal dari bahasa Arab dan merupakan paduan dari kata       (zakhkha) serta              (barra), yang artinya, “Jalan upaya untuk beramal sudah berakhir dan sudah masuk ke dalam suatu kondisi yang terselubung.”
Keadaan barzakh adalah suatu keadaan ketika wujud manu­sia yang fana ini menjadi terurai; ruh terpisah dan tubuh pun terpisah. Sebagaimana yang tampak, tubuh dimasukkan ke dalam suatu lubang, sedangkan ruh masuk ke dalam semacam lubang juga, seperti yang terungkap dari kata zakhkha. Sebab, ruh tidak dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk seperti yang biasa dapat dilaksanakannya ketika mempunyai pertalian dengan tubuh. Adalah jelas bahwa sempurnanya kesehatan ruh bergantung pada tubuh. Akibat luka pada satu bagian tertentu di otak, maka daya ingat menjadi hilang. Dan akibat cedera pada bagian lainnya, kemampuan berpikir menjadi hilang dan segala kesadaran jadi lenyap. Dan apabila di dalam otak terjadi kekejangan, bengkak, atau penggumpalan darah, atau penggumpalan zat lain hingga timbul penyempitan bersifat sementara atau perma­nen, maka seketika itu juga dapat mengakibatkan ping­san, ayan, atau serangan lumpuh. Jadi, pengalaman kita sejak dahulu mengajarkan secara pasti bahwa ruh kita tanpa ada hubungan dengan tubuh, sama sekali tidak akan berarti. Maka amat keliru jika kita beranggapan bahwa pada waktu tertentu ruh kita secara mandiri, tanpa disertai tubuh, dapat memperoleh kebahagiaan. Jika kita mempercayainya sebagai suatu cerita, silahkan. Akan tetapi secara akal tidak ada dalilnya. Kami sama sekali tidak dapat mengerti bahwa ruh -- yang tidak berdaya akibat gangguan-gangguan kecil pada tubuh -- bagaimana mungkin pada hari itu akan berada dalam keadan sempurna, padahal hubungannya dengan tubuh diputuskan sama sekali. Tidakkah pengalaman sehari‑hari mengajarkan kepada kita bahwa untuk kesehatan ruh mutlak adanya kesehatan tubuh? Tatkala seseorang di antara kita menjadi tua‑renta, maka beriringan dengan itu ruhnya menjadi tua. Seluruh kekayaan ilmu pengetahuannya hilang termakan oleh usia lanjut. Sebagaimana Allah swt. berfirman:
Yakni, sesudah manusia menjadi tua, sampailah ia pada keadaan ia lupa sama sekali kepada ilmu yang pernah diperoleh-nya (22:6). Jadi, kesaksian kita ini cukup menjadi dalil atas kenyata­an bahwa ruh tanpa tubuh tidak akan bermakna sama sekali. Kemudian pemikiran ini pun menarik perhatian manusia kepada hakikat bahwa seandainya ruh tanpa tubuh merupakan sesuatu yang bermakna, maka perbuatan Tuhan tanpa alasan mengaitkan ruh dengan tubuh yang fana ini menjadi sia-sia. Dan patut pula direnungkan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia untuk meraih kemajuan‑kemajuan tak terbatas. Jadi, kalau da­lam keadaan hidup singkat ini saja kemajuan-kemajuan tidak dapat dicapai tanpa keikut-sertaan tubuh, maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa kemajuan yang tidak terbatas dan tanpa tepi itu mampu dicapai mandiri tanpa keikut-sertaan tubuh.
Jadi, dari semua keterangan ini terbukti bahwa untuk ter-laksana­nya pekerjaan‑pekerjaan ruh secara sempurna, menurut prinsip-prinsip Islam, keikut-sertaan tubuh pada ruh adalah kekal. Walaupun tubuh yang fana ini sesudah mati akan terpisah dari ruh, tetapi di Alam Barzakh tiap‑tiap ruh akan mendapat suatu tubuh sementara guna mencicipi cita rasa buah amal perbuatannya. Tubuh tersebut bukanlah dari jenis tubuh ini, melainkan ia dipersiapkan dari suatu cahaya, atau ke­balikannya, dari kegelapan -- sesuai dengan keadaan amal perbuatan. Seolah‑olah di Alam Barzakh itu keadaan‑keadaan amal manusia menjalankan peranan sebagai tubuh. Demikianlah berkali‑kali disebutkan dalam Kalam Ilahi, sebagian dinyatakan tubuh cahaya dan sebagian lagi tubuh kegelapan, yang terbentuk dari cahaya amal perbuatan atau dari kegelapan amal perbuatan. Kendatipun rahasia ini amat mendalam, akan tetapi bukanlah tidak masuk akal.
Seorang insan kamil (manusia sempurna), di dalam kehidupan ini juga dapat memperoleh suatu tubuh cahaya di samping tubuh kasar­nya. Dan di alam kasyaf banyak terdapat contoh-contohnya. Meskipun sulit memberikan pemahaman kepada orang yang akal-nya terbatas hanya pada pengetahuan lahiriah saja, namun orang-orang yang pernah mengalami sebagian alam kasyaf, mereka tidak akan heran melihat tubuh semacam itu yang dipersiapkan dari amal perbuatan. Bahkan mereka akan merasakan kelezatan dalam masalah ini.
Ringkasnya, tubuh yang diperoleh berdasarkan kondisi amal perbuatan, itulah yang akan menjadi faktor ganjaran baik dan buruk di Alam Barzakh. Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini. Acapkali, secara kasyaf, dalam keadaan sadar, saya mendapat kesem­patan berjumpa dengan beberapa orang yang sudah meninggal dunia. Dan saya melihat tubuh beberapa orang fasik serta orang sesat demikian hitamnya sehingga seakan‑akan tubuh itu terbuat dari asap. Ringkasnya, saya secara pribadi cukup mengenal kawasan ini. Dan dengan tegas saya katakan, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala, pasti akan demikian bahwa sesudah mati setiap orang akan men­dapat suatu tubuh, baik berupa cahaya maupun kegelapan. Adalah kekeliruan manusia jika ia ingin membuktikan makrifat yang sangat halus ini hanya de­ngan perantaraan akal belaka. Melainkan hendaknya dimaklumi, sebagaimana mata tidak dapat menyatakan cita rasa makanan manis, dan tidak pula lidah dapat melihat sesuatu, demikian pulalah ilmu‑ilmu ukhrawi yang dapat diperoleh melalui kasyaf-kasyaf suci tidak akan da­pat diraih hanya dengan melalui perantaraan akal belaka. Allah Ta’ala telah menetapkan sarana-sarana tertentu secara terpisah untuk mengetahui hal-hal yang tidak berwujud di dunia ini. Jadi, carilah tiap se­suatu melalui sarananya masing-masing, maka barulah akan kalian dapatkan.
Satu hal lagi yang patut diingat, bahwa Tuhan telah menamakan di dalam Kalam-Nya orang‑orang jahat dan sesat sebagai orang mati, dan menyatakan orang‑orang yang beramal saleh sebagai orang hidup. Rahasianya ialah, orang-orang yang telah melupakan Allah Ta’ala, sarana-sarana kehidupan mereka -- yang digunakan untuk memuaskan nafsu makan, minum dan syahwat -- telah terputus dan mereka tidak memperoleh makanan rohani sedikitpun. Jadi, pada hakikatnya mereka telah mati. Dan mereka akan dibangkitkan hanya untuk memikul azab bela­ka. Ke arah rahasia inilah Allah swt. mengisyaratkan, sebagaimana Dia berfirman:
Yakni, barangsiapa datang kepada Tuhan dalam keadaan berdosa, baginya disediakan tempat di neraka Jahanam, di dalamnya ia tidak akan mati dan tidak pula akan hidup (20:75). Akan tetapi orang‑orang yang mencintai Allah tidak mati oleh maut, sebab minuman dan makanan mereka ada beserta mereka.
(3) Alam Ketiga dinamakan Alam Kebangkitan
Sesudah Alam Barzakh kemudian datanglah zaman yang dinama­kan Alam Kebangkitan. Pada masa itu setiap ruh -- yang baik maupun yang buruk; yang saleh maupun yang fasik -- akan mendapatkan tubuh nyata. Dan hari itu telah ditetapkan untuk penampakkan-penampakkan Tuhan seutuhnya, ketika setiap insan akan mengenali Wujud Tuhan dengan sejelas-jelasnya. Dan setiap orang akan mencapai titik akhir ganjarannya. Hendaknya jangan heran mengapa Tuhan akan berbuat demikian, sebab Dia memiliki segala kekuasaan. Apa yang dikehendaki‑Nya dikerjakan‑Nya. Se­bagaimana Dia Sendiri berfirman:
Yakni, apakah manusia tidak melihat bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air yang dimasukkan ke dalam rahim, kemudian ia menjadi seorang pembantah. Ia mulai membuat‑buat perkara mengenai Kami dan melupakan peristiwa penciptaan dirinya. Dan dia akan berkata, “Bagaimana mungkin dapat terjadi, tatkala tulang-belulang pun tidak selamat lagi maka bagaimana mungkin akan hidup kembali. Siapa pula yang mempunyai kekuasa­an demikian sehingga dapat menghidupkan-nya?” Katakanlah kepada mereka, “Yang akan menghidupkan adalah Dia yang telah menciptakannya pertama kali. Dan Dia mengetahui segala macam dan cara untuk menghidupkan. Begitu hebat perintah-Nya sehingga manakala Dia menghendaki se­suatu, Dia hanya mengatakan, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia. Jadi, Mahasuci-lah Dzat Yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepada Dia‑lah kamu sekalian akan kembali” (36: 78‑80; 82‑84). Jadi, di dalam ayat‑ayat ini Allah swt. berfirman bahwa di hadapan Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil; Dia-lah yang telah menciptakan manusia dari setetes air yang tidak berarti. Apakah Dia tidak mampu meng­hidupkan untuk kedua kalinya?
Di sini dapat timbul pertanyaan dari pihak yang kurang paham. Yaitu, Alam Ketiga atau Alam Kebangkit­an akan datang sesudah jangka waktu yang amat lama. Maka dalam ke­adaan demikian bagi setiap orang yang baik dan yang buruk, Alam Barzakh merupa­kan suatu tempat tahanan dan tampak sia‑sia. Jawaban­nya adalah, pengertian demikian sama sekali keliru, yang timbul karena kekurang-pahaman belaka. Justru di dalam Kitab Allah Ta’ala terdapat dua tempat untuk ganjaran baik dan buruk. Yang pertama adalah Alam Barzakh, yang di dalamnya setiap manusia akan memperoleh ganjarannya secara terselubung. Orang-orang jahat, setelah mati akan langsung masuk ke dalam neraka. Orang-orang baik setelah mati akan langsung mendapatkan ketentraman di dalam surga. Banyak terdapat ayat‑ayat semacam itu di dalam Alquran Suci. Segera sesudah mati, setiap insan akan melihat ganjar­an atas amal perbuatannya. Sebagaimana Allah Ta’ala mengabarkan tentang seorang penghuni surga, dan berfirman:
Yakni, telah dikatakan kepadanya, “Masuklah engkau ke dalam surga” (36:27). Dan demikian pula Dia mengabarkan tentang seorang penghuni neraka, lalu berfirman:
Yakni, orang surga mempunyai teman orang neraka. Ketika keduanya meninggal, maka orang surga merasa heran, kemana kawannya pergi. Maka kepadanya diperlihatkan bahwa temannya itu berada di tengah‑tengah neraka Jahanam (37:56). Jadi, pelaksanaan ganjaran dan hukuman itu berlaku segera. Ahli neraka masuk neraka dan ahli surga masuk surga. Akan tetapi, sesu­dah itu akan datang hari lain penampakkan agung yang dizahirkan oleh hikmah agung Tuhan. Sebab, Dia telah menciptakan manusia agar Dia dikenali melalui sifat penciptaan‑Nya. Kemudian Dia akan membinasakan semuanya supaya Dia dikenali melalui sifat keperkasaan‑Nya. Dan kemudian pada suatu hari Dia akan menganugerahkan kepada semuanya suatu kehidupan sempurna, lalu akan menghimpun mereka di suatu lapangan agar Dia dikenali melalui sifat kekuasaan‑Nya. Kini hendaknya diketahui bahwa itulah rahasia makrifat pertama di antara rahasia‑rahasia makrifat tersebut di atas, yang telah diuraikan.

Rahasia Makrifat Kedua

Rahasia makrifat kedua mengenai Alam Ukhrawi yang telah dijelaskan Alquran ialah, segala hal yang dahulu di dunia ini bersifat rohani, disana, di dalam Alam Ukhrawi -- baik di tingkat Barzakh maupun di tingkat Alam Kebangkitan -- akan dinampakkan dalam bentuk jasmani. Berkenaan dengan ini segala sesuatu yang telah difirmankan Allah Ta’ala, satu di antaranya adalah ayat berikut:
Yakni, barangsiapa di dunia ini buta, ia di alam nanti pun akan buta (17:73). Maksud ayat ini adalah, kebutaan rohani di dunia ini akan disaksikan dan dirasakan secara jasmani di alam nanti. Demikian pula pada ayat lain Dia berfirman:
Yakni, tangkaplah orang neraka itu. Kalungkanlah belenggu di lehernya. Lalu bakarlah dia di dalam api neraka. Kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta (69:31‑33). Hendaknya diketahui, di dalam ayat ini telah dizahirkan bahwa azab rohani dunia akan tampil secara jasmani di alam ukhrawi. Demikianlah, belenggu leher merupakan hasrat-hasrat duniawi yang telah menundukkan kepala manusia ke tanah, ia akan tampil dalam bentuk zahir di alam ukhrawi. Begitu pula rantai belenggu-belenggu dunia akan nampak melilit kaki-kaki. Dan api kobaran hasrat‑hasrat duniawi akan nampak menyala-nyala secara zahir.
Di alam kehidupan dunia, orang fasik menyimpan suatu neraka hawa nafsu di dalam dirinya. Dan dalam kegagalan-kegagalan dia merasakan kobaran-kobaran neraka itu. Jadi, tatkala dia dijauhkan dari nafsu berahinya yang fana serta akan diliputi keputus-asaan yang abadi, maka Allah Ta’ala akan menampakkan kepadanya hasrat‑hasrat tersebut dalam bentuk api jasmani. Sebagaimana Dia berfirman:
Yakni, akan diletakkan suatu pemisah antara mereka dengan apa­-apa yang mereka hasratkan (34:55). Dan inilah merupakan akar azab. Kemudian yang difirmankan bahwa, “Ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta,” hal ini mengisyaratkan bahwa kadang-kadang seorang fasik mencapai usia tujuh puluh tahun. Bahkan seringkali di dunia ini ia mencapai usia begitu panjang sehingga apabila dipotong masa kanak-kanak dan masa tua-renta, tetap saja ia memperoleh bagian umur bersih dan murni yang layak untuk digunakan berfikir secara bijak dan bekerja keras. Akan tetapi, orang malang itu menjalani tujuh puluh tahun kehidupannya tersebut dalam cengkeraman-cengkeraman di dunia. Dan dia tidak berkeinginan untuk lepas dari rantai itu. Jadi, di dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman bahwa masa tujuh puluh tahun yang telah dia lalui di dalam cengkeraman-cengkeraman dunia itulah yang akan dinampakkan di Alam Kebangkitan sebagai rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Tiap hasta merupakan satu tahun. Disini hendaknya diingat bahwa Allah Ta’ala dari diri-Nya sendiri tidak menimpakan suatu musibah kepada manusia, melainkan Dia memaparkan di hadapan manusia pekerjaan buruk manusia itu sendiri. Kemudian untuk menzahirkan sunnah-Nya ini Allah Ta’ala di tempat lain berfir­man:
Yakni, hai orang‑orang yang berbuat jahat dan sesat! Pergilah kamu ke tempat bernaung bercabang tiga yang tidak dapat memberi teduh dan tidak pula dapat menyelamatkan dari panas (77: 31,32). Di dalam ayat ini yang dimaksud dengan tiga cabang adalah sifat kebinatangan, kebuasan, dan kejalangan. Orang-orang yang tidak mengubah ketiga sifat ini ke dalam bentuk akhlak serta tidak mene­rapkannya pada tempat yang semestinya, maka sifat-sifat itu pada Hari Kiamat akan diwujudkan dalam bentuk tiga cabang yang berdiri tanpa ­daun-daun serta tidak dapat melindungi dari panas terik. Dan mereka akan hangus karena panasnya. Demikian pula, Allah Ta’ala untuk menzahirkan sunnah-Nya, telah berfirman mengenai orang-orang surga:
Yakni, pada hari itu engkau akan melihat bahwa cahaya orang-orang mukmin -- yang selama di dunia terselubung -- akan berlari-lari secara nyata di hadapan dan di sisi kanan mereka (57:13).
Dan pada sebuah ayat lainnya Dia berfirman:
Yakni, pada hari itu beberapa wajah akan menjadi hitam dan beberapa akan menjadi putih serta bersinar-sinar (3:107).
Kemudian dalam satu ayat lainnya Dia berfirman:

Yakni, surga yang akan dianugerahkan kepada orang-orang mutaki adalah seibarat sebuah kebun. Di dalamnya terdapat sungai-sungai air yang tidak pernah busuk. Kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai susu yang rasanya tidak pernah berubah. Kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai arak yang menimbulkan perasaan sangat riang tapi tidak memabukkan. Lalu di dalamnya terdapat sungai-sungai madu yang sangat murni dan tidak mengandung bahan campuran (47:16). Disini dengan jelas telah difirmankan bahwa surga itu hendaknya dipahami demikian secara kiasan, bahwa di dalamnya terdapat sungai-sungai yang tak bertepi tersebut dari seluruh benda tersebut. Air kehidupan yang diminum secara rohaniah di dunia oleh orang arif, di dalam kebun itu akan terwujud secara zahir. Dan susu rohani -- yang secara rohaniah di dunia dia dibesarkan bagai bayi yang menyusu -- itu akan nampak nyata di surga. Dan arak kecintaan Ilahi -- yang dengan itu dia di dunia secara rohaniah selalu mabuk -- kini di dalam surga sungai‑sungai arak itu akan kelihatan secara nyata. Dan madu manisnya iman -- yang selama di dunia secara rohaniah masuk ke dalam mulut orang arif -- di surga akan terasa dan nampak bagai sungai-sungai yang nyata. Dan masing-masing penghuni surga, dengan sungai-sungai dan kebun-kebun miliknya, akan memperlihatkan secara terbuka taraf keadaan rohaninya. Dan Tuhan-pun pada hari itu akan tampil keluar bagi para penghuni surga dari balik tirai-tirai. Ringkasnya, keadaan‑keadaan rohani tidak akan tersembunyi la­gi, melainkan akan nampak secara jasmani.

Rahasia Makrifat Ketiga

Rahasia makrifat ketiga ialah, kemajuan-kemajuan di Alam Ukhrawi tidak akan ada batasnya. Mengenai itu Allah Ta’ala berfir­man:
Yakni, barangsiapa memiliki cahaya iman di dunia, cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan dan di sisi kanan mereka pada Hari Kiamat. Mereka akan senantiasa berkata, “Ya Tuhan, sampaikanlah cahaya kami kepada kesempurnaan, dan tariklah kami ke dalam maghfirat (ampunan) Engkau. Engkau ber­kuasa atas segala sesuatu” (66:9).
Di dalam ayat ini yang telah difirmankan bahwa mereka senantiasa akan mengatakan, “Sampaikanlah cahaya kami kepada kesempurnaan,” ini mengisyaratkan kepada kemajuan-kemaju­an yang tidak ada batasnya. Yakni, mereka akan memperoleh suatu kesempurna­an cahaya, kemudian akan nampak kesempur­naan kedua. Setelah menyaksikan hal itu, mereka akan mendapatkan bahwa kesempurnaan yang pertama tadi memiliki kekurangan. Jadi mereka akan memohon kesempurnaan yang kedua. Dan apabila itu diperoleh, maka akan zahir pula atas mereka derajat kesempurnaan yang ketiga. Kemudian setelah menyaksikan hal itu, mereka akan menganggap kesempurnaan-kesempurnaan yang terdahulu tidak berarti dan mereka berhasrat mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi. Inilah hasrat terhadap kemajuan-kemajuan yang dipahami dari kata atmim (sempurnakanlah).
Ringkasnya, seperti itulah rangkaian kemajuan tak terbatas yang akan berkesinambungan. Kemunduran tidak pernah akan ter-jadi. Dan tidak pula mereka akan pernah dikeluarkan dari dalam surga. Bahkan setiap hari mereka akan maju ke depan dan tidak akan mundur ke belakang. Dan yang telah difirmankan bahwa mereka akan senantiasa memohon pengampunan bagi diri mereka, disitu timbul pertanyaan: kalau sudah masuk ke dalam surga, mengapa pula masih ada masalah maghfirat (pengampunan)? Tatkala dosa-dosa sudah diampuni, apa pula perlunya istighfar? Jawabannya adalah, arti maghfirat yang sebenarnya ialah menekan dan menutup-nutupi keadaan cacat dan kekurangan. Jadi, para penghuni surga akan berkeinginan untuk meraih kesempurnaan yang paling lengkap serta tenggelam di dalam lautan cahaya. Setelah melihat keadaan yang kedua, mereka akan menemukan keadaan pertama tidak sempurna. Maka mereka akan berkeinginan agar keadaan pertama itu ditekan ke bawah. Kemudian setelah melihat kesempurnaan yang ketiga, mereka akan berkeinginan untuk memperoleh maghfirat bagi kesempurnaan yang kedua. Yakni, supaya keadaan yang tidak sempurna itu ditekan ke bawah dan diselubungi. Seperti itulah mereka akan terus menginginkan maghfirat yang tak terbatas. Kata maghfirat dan istighfar ini jugalah yang selalu dipaparkan oleh beberapa orang bodoh sebagai celaan terhadap Nabi kita saw. Jadi, para pemerhati disini tentu telah memahami bah­wa hasrat akan istighfar ini merupakan kebanggaan ma­nusia. Barangsiapa yang telah lahir dari rahim seorang wanita dan kemudian untuk selamanya dia tidak menjadikan istighfar sebagai adat kebiasaannya, maka dia merupakan seekor cacing, bukan manusia. Buta, tidak melihat. Kotor, tidak suci.
Kini kesimpulannya adalah, berdasarkan Alquran Suci, pada hakikatnya neraka dan surga keduanya me­rupakan bayangan-bayangan dan dampak-dampak kehidupan manusia. Bukanlah benda jasmaniah baru, yang datang dari suatu tempat lain. Memang benar, bahwa keduanya itu akan diperagakan secara jasmani, akan tetapi merupakan bayangan dan dampak keadaan-keadaan rohani yang sebenarnya. Kami tidak mengakui suatu surga yang hanya secara jasmani akan ditanami pohon‑pohon di atas sebidang tanah. Dan tidak pula kami mengakui adanya suatu neraka yang di dalamnya terdapat batu‑batu belerang. Melainkan, sesuai dengan akidah Islam, surga dan neraka merupakan cerminan-cerminan amal perbuatan yang dilakukan manusia di dunia.

15 Langkah efektif menghafal AL-QUR'AN

15 Langkah Efektif Untuk Menghafal Al Qur'an

 

Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah Firman Allah, pedoman hidup umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan yang paling sering dulang-ulang oleh manusia. Oleh Karenanya, seorang penuntut ilmu hendaknya meletakan hafalan Al Qur’an sebagai prioritas utamanya. Berkata Imam Nawawi : “ Hal Pertama ( yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu ) adalah menghafal Al Quran, karena dia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadits dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran. Kalau sudah hafal Al Quran jangan sekali- kali menyibukan diri dengan hadits dan fikih atau materi lainnya, karena akan menyebabkan hilangnya sebagian atau bahkan seluruh hafalan Al Quran. “()
( ) Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 ) Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66
Di bawah ini beberapa langkah efektif untuk menghafal Al Qur’an yang disebutkan para ulama, diantaranya adalah sebagai berikut :
Langkah Pertama : Pertama kali seseorang yang ingin menghafal Al Qur’am hendaknya mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah saja. Dengan niat ikhlas, maka Allah akan membantu anda dan menjauhkan anda dari rasa malas dan bosan. Suatu pekerjaan yang diniatkan ikhlas, biasanya akan terus dan tidak berhenti. Berbeda kalau niatnya hanya untuk mengejar materi ujian atau hanya ingin ikut perlombaan, atau karena yang lain.
Langkah Kedua : Hendaknya setelah itu, ia melakukan Sholat Hajat dengan memohon kepada Allah agar dimudahkan di dalam menghafal Al Qur’an. Waktu sholat hajat ini tidak ditentukan dan doa’anyapun diserahkan kepada masing-masing pribadi. Hal ini sebagaimana yang diriwayat Hudzaifah ra, yang berkata :
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى
“ Bahwasanya Rosulullah saw jika ditimpa suatu masalah beliau langsung mengerjakan sholat. “()
Adapun riwayat yang menyebutkan doa tertentu dalam sholat hajat adalah riwayat lemah, bahkan riwayat yang mungkar dan tidak bisa dijadikan sandaran. ()
Begitu juga hadist yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra yang menjelaskan bahwa Rosulullah saw mengajarkan Ali bin Abu Thalib sholat khusus untuk meghafal Al Qur’an yang terdiri dari empat rekaat , rekaat pertama membaca Al Fatihah dan surat Yasin, rekaat kedua membaca surat Al Fatihah dan Ad Dukhan, rekaat ketiga membaca surat Al Fatihah dan Sajdah, dan rekaat keempat membaca surat Al Fatihah dan Al Mulk, itu adalah hadist maudhu’ dan tidak boleh diamalkan. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa hadist tersebut adalah hadits dhoif . ()
Langkah Ketiga : Memperbanyak do’a untuk menghafal Al Qur’an. ()
Do’a ini memang tidak terdapat dalam hadits, akan tetapi seorang muslim bisa berdo’a menurut kemampuan dan bahasanya masing-masing. Mungkin anda bisa berdo’a seperti ini :
اللهم وفقني لحفظ القرآن الكريم ورزقني تلاوته أناء الليل وأطراف النهار على الوجه الذي يرضيك عنا يا أرحم الراحمين .
“ Ya Allah berikanlah kepada saya taufik untuk bisa menghafal Al Qur’an, dan berilah saya kekuatan untuk terus membacanya siang dan malam sesuai dengan ridhal dan tuntunan-Mu , wahai Yang Maha Pengasih “.
Langkah Keempat : Menentukan salah satu metode untuk menghafal Al Qur’an. Sebenarnya banyak sekali metode yang bisa digunakan untuk menghafal Al Qur’an, Masing-masing orang akan mengambil metode yang sesuai dengan dirinya. Akan tetapi di sini hanya akan disebutkan dua metode yang sering dipakai oleh sebagian kalangan, dan terbukti sangat efektif :
Metode Pertama : Menghafal per satu halaman ( menggunakan Mushaf Madinah ). Kita membaca satu lembar yang mau kita hafal sebanyak tiga atau lima kali secara benar, setelah itu kita baru mulai menghafalnya. Setelah hafal satu lembar, baru kita pindah kepada lembaran berikutnya dengan cara yang sama. Dan jangan sampai pindah ke halaman berikutnya kecuali telah mengulangi halaman- halaman yang sudah kita hafal sebelumnya. Sebagai contoh : jika kita sudah menghafal satu lembar kemudian kita lanjutkan pada lembar ke-dua, maka sebelum menghafal halaman ke-tiga, kita harus mengulangi dua halaman sebelumnya. Kemudian sebelum menghafal halaman ke-empat, kita harus mengulangi tiga halaman yang sudah kita hafal. Kemudian sebelum meghafal halaman ke-lima, kita harus mengulangi empat halaman yang sudah kita hafal. Jadi, tiap hari kita mengulangi lima halaman : satu yang baru, empat yang lama. Jika kita ingin menghafal halaman ke-enam, maka kita harus mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman dua, tiga, empat dan lima. Untuk halaman satu kita tinggal dulu, karena sudah terulangi lima kali. Jika kita ingin menghafal halaman ke-tujuh, maka kita harus mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman tiga, empat, lima, dan enam. Untuk halaman satu dan dua kita tinggal dulu, karena sudah terulangi lima kali, dan begitu seterusnya.
Perlu diperhatikan juga, setiap kita menghafal satu halaman sebaiknya ditambah satu ayat di halaman berikutnya, agar kita bisa menyambungkan hafalan antara satu halaman dengan halaman berikutnya.
Metode Kedua : Menghafal per- ayat , yaitu membaca satu ayat yang mau kita hafal tiga atau lima kali secara benar, setelah itu, kita baru menghafal ayat tersebut. Setelah selesai, kita pindah ke ayat berikutnya dengan cara yang sama, dan begiu seterusnya sampai satu halaman. Akan tetapi sebelum pindah ke ayat berikutnya kita harus mengulangi apa yang sudah kita hafal dari ayat sebelumnya. Setelah satu halaman, maka kita mengulanginya sebagaimana yang telah diterangkan pada metode pertama . ()
Untuk memudahkan hafalan juga, kita bisa membagi Al Qur’an menjadi tujuh hizb ( bagian ) :
  1. Surat Al Baqarah sampai Surat An Nisa’
  2. Surat Al Maidah sampai Surat At Taubah
  3. Surat Yunus sampai Surat An Nahl
  4. Surat Al Isra’ sampai Al Furqan
  5. Surat As Syuara’ sampai Surat Yasin
  6. Surat As Shoffat sampai Surat Al Hujurat
  7. Surat Qaf sampai Surat An Nas
Boleh juga dimulai dari bagian terakhir yaitu dari Surat Qaf sampai Surat An Nas, kemudian masuk pada bagian ke-enam dan seterusnya.
Langkah Kelima : Memperbaiki Bacaan.
Sebelum mulai menghafal, hendaknya kita memperbaiki bacaan Al Qur’an agar sesuai dengan tajwid. Perbaikan bacaan meliputi beberapa hal, diantaranya :
a/ Memperbaiki Makhroj Huruf. Seperti huruf ( dzal) jangan dibaca ( zal ), atau huruf ( tsa) jangan dibaca ( sa’ ) sebagaimana contoh di bawah ini :
ثم —— > سم / الذين —- > الزين
b/ Memperbaiki Harakat Huruf . Seperti yang terdapat dalam ayat-ayat di bawah ini :
1/ وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمات ( البقرة : 124 ) —- > )إبراهيمُ ﴾
2/ وَكُنْت ُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ( المائدة : 116 )
وَكُنْت ُ < ——— > كُنْتَ
3/ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يتَّبَعَ أَمْ مَنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى ( ونس : 35 ) —- > أم من لا يَهْدِي
4/ رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ( فصلت :29 ) —– > الَّذِين
5/ فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ ﴾ الحشر: 17) —– > خالدِين فيها
Langkah Keenam : Untuk menunjang agar bacaan baik, hendaknya hafalan yang ada, kita setorkan kepada orang lain, agar orang tersebut membenarkan jika bacaan kita salah. Kadang, ketika menghafal sendiri sering terjadi kesalahan dalam bacaan kita, karena kita tidak pernah menyetorkan hafalan kita kepada orang lain, sehingga kesalahan itu terus terbawa dalam hafalan kita, dan kita menghafalnya dengan bacaan tersebut bertahun-tahun lamanya tanpa mengetahui bahwa itu salah, sampai orang lain yang mendengarkannya akhirnya memberitahukan kesalahan tersebut.
Langkah Ketujuh : Faktor lain agar bacaan kita baik dan tidak salah, adalah memperbanyak untuk mendengar kaset-kaset bacaan Al Qur’an murattal dari syekh yang mapan dalam bacaannya. Kalu bisa, tidak hanya sekedar mendengar sambil mengerjakan pekerjaan lain, akan tetapi mendengar dengan serius dan secara teratur. Untuk diketahui, akhir-akhir ini - alhamdulillah - banyak telivisi-telelivisi parabola yang menyiarkan secara langsung pelajaran Al Qur’an murattal dari seorang syekh yang mapan, diantaranya adalah acara di televisi Iqra’ . Tiap pekan terdapat siaran langsung pelajaran Al Qur’an yang dipandu oleh Syekh Aiman Ruysdi seorang qari’ yang mapan dan masyhur, kitapun bisa menyetor bacaan kita kepada syekh ini lewat telpun. Rekaman dari acara tersebut disiarkan ulang setiap pagi. Selain itu, terdapat juga di channel ” Al Majd “, dan channel- channel televisi lainnya. Acara-acara tersebut banyak membantu kita di dalam memperbaiki bacaan Al Qur’an.
Langkah Kedelapan : Untuk menguatkan hafalan, hendaknya kita mengulangi halaman yang sudah kita hafal sesering mungkin, jangan sampai kita sudah merasa hafal satu halaman, kemudian kita tinggal hafalan tersebut dalam tempo yang lama, hal ini akan menyebabkan hilangnya hafalan tersebut. Diriwayatkan bahwa Imam Ibnu Abi Hatim, seorang ahli hadits yang hafalannya sangat terkenal dengan kuatnya hafalannya. Pada suatu ketika, ia menghafal sebuah buku dan diulanginya berkali-kali, mungkin sampai tujuh puluh kali. Kebetulan dalam rumah itu ada nenek tua. Karena seringnya dia mengulang-ulang hafalannya, sampai nenek tersebut bosan mendengarnya, kemudian nenek tersebut memanggil Ibnu Abi Hatim dan bertanya kepadanya : Wahai anak, apa sih yang sedang engkau kerjakan ? “ Saya sedang menghafal sebuah buku “ , jawabnya. Berkata nenek tersebut : “ Nggak usah seperti itu, saya saja sudah hafal buku tersebut hanya dengan mendengar hafalanmu.” . “ Kalau begitu, saya ingin mendengar hafalanmu “ kata Ibnu Abi Hatim, lalu nenek tersebut mulai mengeluarkan hafalannya. Setelah kejadian itu berlalu setahun lamanya, Ibnu Abi Hatim datang kembali kepada nenek tersebut dan meminta agar nenek tersebut menngulangi hafalan yang sudah dihafalnya setahun yang lalu, ternyata nenek tersebut sudah tidak hafal sama sekali tentang buku tersebut, dan sebaliknya Ibnu Abi Hatim, tidak ada satupun hafalannya yang lupa. () Cerita ini menunjukkan bahwa mengulang-ulang hafalan sangatlah penting. Barangkali kalau sekedar menghafal banyak orang yang bisa melakukannya dengan cepat, sebagaimana nenek tadi. Bahkan kita sering mendengar seseorang bisa menghafal Al Qur’an dalam hitungan minggu atau hitungan bulan, dan hal itu tidak terlalu sulit, akan tetapi yang sulit adalah menjaga hafalan dan mengulanginya secara kontinu.
Langkah Kesembilan : Faktor lain yang menguatkan hafalan adalah menggunakan seluruh panca indra yang kita miliki. Maksudnya kita menghafal bukan hanya dengan mata saja, akan tetapi dibarengi dengan membacanya dengan mulut kita, dan kalau perlu kita lanjutkan dengan menulisnya ke dalam buku atau papan tulis. Ini sangat membantu hafalan seseorang. Ada beberapa teman dari Marokko yang menceritakan bahwa cara menghafal Al Qur’an yang diterapkan di sebagian daerah di Marokko adalah dengan menuliskan hafalannya di atas papan kecil yang dipegang oleh masing-masing murid, setelah mereka bisa menghafalnya di luar kepala, baru tulisan tersebut dicuci dengan air.
Langkah Kesepuluh : Menghafal kepada seorang guru.
Menghafal Al Qur’an kepada seorang guru yang ahli dan mapan dalam Al Qur’an adalah sangat diperlukan agar seseorang bisa menghafal dengan baik dan benar. Rosulullah saw sendiri menghafal Al Qur’an dengan Jibril as, dan mengulanginya pada bulan Ramadlan sampai dua kali katam.
Langkah Kesebelas : Menggunakan satu jenis mushaf Al Qur’an dan jangan sekali-kali pindah dari satu jenis mushaf kepada yang lainnya. () Karena mata kita akan ikut menghafal apa yang kita lihat. Jika kita melihat satu ayat lebih dari satu posisi, jelas itu akan mengaburkan hafalan kita. Masalah ini, sudah dihimbau oleh salah seorang penyair dalam tulisannya :
العين تحفظ قبل الأذن ما تبصر فاختر لنفسك مصحف عمرك الباقي .
“ Mata akan menghafal apa yang dilihatnya- sebelum telinga- , maka pilihlah satu mushaf untuk anda selama hidupmu. “()
Yang dimaksud jenis mushaf di sini adalah model penulisan mushaf. Di sana ada beberapa model penulisan mushaf, diantaranya adalah : Mushaf Madinah atau terkenal dengan Al Qur’an pojok, satu juz dari mushaf ini terdiri dari 10 lembar, 20 halaman, 8 hizb, dan setiap halaman dimulai dengan ayat baru. Mushaf Madinah ( Mushaf Pojok ) ini paling banyak dipakai oleh para pengahafal Al Qur’an, banyak dibagi-bagikan oleh pemerintah Saudi kepada para jama’ah haji. Cetakan-cetakan Al Qur’an sekarang merujuk kepada model mushaf seperti ini. Dan bentuk mushaf seperti ini paling baik untuk dipakai menghafal Al Qur’an.
Disana ada model lain, seperti mushaf Al Qur’an yang dipakai oleh sebagain orang Mesir, ada juga mushaf yang dipakai oleh sebagain orang Pakistan dan India, bahkan ada model mushaf yang dipakai oleh sebagian pondok pesantren tahfidh Al Qur’an di Indonesia yang dicetak oleh Manar Qudus , Demak.
Langkah Keduabelas : Pilihlah waktu yang tepat untuk menghafal, dan ini tergantung kepada pribadi masing-masing. Akan tetapi dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, disebutkan bahwasanya Rosulullah saw bersabda :
إن الدين يسر ، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه ، فسددوا وقاربوا و أبشروا ، واستعينوا بالغدوة والروحة وشئ من الدلجة
“ Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada yang mempersulit diri dalam agama ini kecuali dia akan capai sendiri, makanya amalkan agama ini dengan benar, pelan-pelan, dan berilah kabar gembira, serta gunakan waktu pagi, siang dan malam ( untuk mengerjakannya ) “ ( HR Bukhari )
Dalam hadist di atas disebutkan waktu pagi ,siang dan malam, artinya kita bisa menggunakan waktu-waktu tersebut untuk menghafal Al Qur’an. Sebagai contoh : di pagi hari, sehabis sholat subuh sampai terbitnya matahari, bisa kita gunakan untuk menghafal Al Qur’an atau untuk mengulangi hafalan tersebut, waktu siang siang, habis sholat dluhur, waktu sore habis sholat Ashar, waktu malam habis sholat Isya’ atau ketika melakukan sholat tahajud dan seterusnya.
Langkah Ketigabelas : Salah satu waktu yang sangat tepat untuk melakukan pengulangan hafalan adalah waktu ketika sedang mengerjakan sholat –sholat sunnah, baik di masjid maupun di rumah. Hal ini dikarenakan waktu sholat, seseorang sedang konsentrasi menghadap Allah, dan konsentrasi inilah yang membantu kita dalam mengulangi hafalan. Berbeda ketika di luar sholat, seseorang cenderung untuk bosan berada dalam satu posisi, ia ingin selalu bergerak, kadang matanya menengok kanan atau kiri, atau kepalanya akan menengok ketika ada sesuatu yang menarik, atau bahkan kawannya akan menghampirinya dan mengajaknya ngobrol . Berbeda kalau seseorang sedang sholat, kawannya yang punya kepentingan kepadanya-pun terpaksa harus menunggu selesainya sholat dan tidak berani mendekatinya, dan begitu seterusnya.
Langkah Ketigabelas : Salah satu faktor yang mendukung hafalan adalah memperhatikan ayat-ayat yang serupa ( mutasyabih ) . Biasanya seseorang yang tidak memperhatikan ayat-ayat yang serupa ( mutasyabih ), hafalannya akan tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Ayat yang ada di juz lima umpamanya akan terbawa ke juz sepuluh. Ayat yang mestinya ada di surat Surat Al-Maidah akan terbawa ke surat Al-Baqarah, dan begitu seterusnya. Di bawah ini ada beberapa contoh ayat-ayat serupa ( mutasyabihah ) yang seseorang sering melakukan kesalahan ketika menghafalnya :
- ﴿ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ﴾ البقرة 173 < ———— > ﴿ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ) المائدة 3 ، والأنعام 145، و النحل 115
- ( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير الحق ) البقرة : 61
( إن الذين يكفرون بآيات اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير حق ) آل عمران : 21
( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأنبياء بغير حق ) آل عمرن : 112
Untuk melihat ayat –ayat mutasyabihat seperti ini secara lebih lengkap bisa dirujuk buku – buku berikut :
  • Duurat At Tanzil wa Ghurrat At Ta’wil fi Bayan Al Ayat Al Mutasyabihat min Kitabillahi Al Aziz , karya Al Khatib Al Kafi.
  • Asrar At Tikrar fi Al Qur’an, karya : Mahmud bin Hamzah Al Kirmany.
  • Mutasyabihat Al Qur’an, Abul Husain bin Al Munady
  • ‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, karya Abu Dzar Al Qalamuni
Langkah Kelimabelas : Setelah hafal Al Qur’an, jangan sampai ditinggal begitu saja. Banyak dari teman-teman yang sudah menamatkan Al Qur’an di salah satu pondok pesantren, setelah keluar dan sibuk dengan studinya yang lebih tinggi, atau setelah menikah atau sudah sibuk pada suatu pekerjaan, dia tidak lagi mempunyai program untuk menjaga hafalannya kembali, sehingga Al-Qur’an yang sudah dihafalnya beberapa tahun di pesantren akhirnya hanya tinggal kenangan saja. Setelah ditinggal lama dan sibuk dengan urusannya, ia merasa berat untuk mengembalikan hafalannya lagi. Fenomena seperti sangat banyak terjadi dan hal itu sangat disayangkan sekali. Boleh jadi, ia mendapatkan ijazah sebagai seorang yang bergelar ” hafidh ” atau ” hafidhah “, akan tetapi jika ditanya tentang hafalan Al- Qur’an, maka jawabannya adalah nihil.
Yang paling penting dalam hal ini bukanlah menghafal, karena banyak orang bisa menghafal Al Qur’an dalam waktu yang sangat singkat, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga hafalan tersebut agar tetap terus ada dalam dada kita. Di sinilah letak perbedaan antara orang yang benar-benar istiqamah dengan orang yang hanya rajin pada awalnya saja. Karena, untuk menjaga hafalan Al Qur’an diperlukan kemauan yang kuat dan istiqamah yang tinggi. Dia harus meluangkan waktunya setiap hari untuk mengulangi hafalannya. Banyak cara untuk menjaga hafalan Al Qur’an, masing-masing tentunya memilih yang terbaik untuknya. Diantara cara untuk menjaga hafalan Al Qur’an adalah sebagai berikut :
  • Mengulangi hafalan menurut waktu sholat lima waktu. Seorang muslim tentunya tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, hal ini hendaknya dimanfaatkan untuk mengulangi hafalannya. Agar terasa lebih ringan, hendaknya setiap sholat dibagi menjadi dua bagian, sebelum sholat dan sesudahnya. Sebelum sholat umpamanya :i sebelum adzan, dan waktu antara adzan dan iqamah. Apabila dia termasuk orang yang rajin ke masjid, sebaiknya pergi ke masjid sebelum adzan agar waktu untuk mengulangi hafalannya lebih panjang. Kemudian setelah sholat, yaitu setelah membaca dzikir ba’da sholat atau dzikir pagi pada sholat shubuh dan setelah dzkir sore setelah sholat Ashar. Seandainya saja, ia mampu mengulangi hafalannya sebelum sholat sebanyak seperempat juz dan sesudah sholat seperempat juz juga, maka dalam satu hari dia bisa mengulangi hafalannya sebanyak dua juz setengah. Kalau bisa istiqamah seperti ini, maka dia bisa menghatamkan hafalannya setiap dua belas hari, tanpa menyita waktunya sama sekali. Kalau dia bisa menyempurnakan setengah juz setiap hari pada sholat malam atau sholat-sholat sunnah lainnya, berarti dia bisa menyelesaikan setiap harinya tiga juz, dan bisa menghatamkan Al Qur’an pada setiap sepuluh hari sekali. Banyak para ulama dahulu yang menghatamkan hafalannya setiap sepuluh hari sekali.
  • Ada sebagian orang yang mengulangi hafalannya pada malam saja, yaitu ketika ia mengerjakan sholat tahajud. Biasanya dia menghabiskan sholat tahajudnya selama dua jam. Cuma kita tidak tahu, selama dua jam itu berapa juz yang ia dapatkan. Menurut ukuran umum, kalau hafalannya lancar, biasanya ia bisa menyelesaikan satu juz dalam waktu setengah jam. Berarti, selama dua jam dia bisa menyelesaikan dua sampai tiga juz dengan dikurangi waktu sujud dan ruku.
  • Ada juga sebagian teman yang mengulangi hafalannya dengan cara masuk dalam halaqah para penghafal Al Qur’an. Kalau halaqah tersebut berkumpul setiap tiga hari sekali, dan setiap peserta wajib menyetor hafalannya kepada temannya lima juz berarti masing-masing dari peserta mampu menghatamkan Al Qur’an setiap lima belas hari sekali. Inipun hanya bisa terlaksana jika masig-masing dari peserta mengulangi hafalannya sendiri-sendiri dahulu.
( Bersambung pada masalah lain dalam seri ” Sukses Belajar ” volume : 3 )
( ) Hadist riwayat Abu Daud ( no : 1319 ), dishohihkan oleh Syekh Al Bani dalam Shohih Sunan Abu Daud , juz I, hal. 361
( ) Untuk mengetahui secara lebih lengkap tentang derajat hadits tersebut bisa dirujuk : Abu Umar Abdullah bin Muhammad Al Hamadi, Al Asinatu Al Musyri’atu fi At Tahdhir min As Solawat Al Mubtadi’ah, ( Kairo, Maktabah At Tabi’in, 2002 ) Cet Pertama, hal. 97 -120
( ) Ibid, hal.21-39
( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Ashal Nidham Li Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo, Maktabah Al Islamiyah, 2002 ) Cet. Ke-Tiga, Hal. 13
( ) Ali bin Umar Badhdah, Kaifa Tahfadu Al Qur’an, hal. 6
( ) Ibid. hal 12
( ) Abu Dzar Al Qalamuni, ‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo, Dar Ibnu Al Haitsam, 1998 ) Cet Pertama, hal.16
( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Op. Cit, Hal. 15

( ) Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 ) Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66

Rabu, 08 Oktober 2014

Mars ARH



Mars Arif Rahman Hakim
Cipt: Mln.Nasirudin Ahmadi

Marilah kawan kawanku belajar riang dan gembira prestasi demi masa depan harapan gemilang demi kejayaan Indonesia
Bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa itulah tujuan utama
Berahklaq mulia pada guru dan teman Orang tua paling utama
Ramah lingkungan itulah janji kami dan ku jaga sampai nanti

Arif Rahman Hakim wadah kita semua
Arif Rahman Hakim satukan semua Siswa
Arif Rahman Hakim satukan Nusantara
Arif Rahman Hakim sekolah yang ku cinta

Mengabdi kepada negeri yang dicintai
Ibu Pertiwi selalu mengayomi kanku Bela sampai mati

Dari Sabang sampai Meraoke satukan perbedaan
Munculkan persamaan Berbhineka Tunggal Ika Menjaga
Empat Pilar Bangsa